twitter


Buai mimpi masih disisi. Meski mentari sudah disinggasana tertinggi. Tak ada salahnya membiarkan ini terus terjadi. Terus menutup mata akan semua hal yang nyata. Meski kau nyata, aku akan setia tuk menutup netra. Nyatamu membawa duka dan luka. Nyatamu hanya memberi sebuah harapan tanpa perwujudan. Jadi, bagaimana jika kita membuat sebuah kesepakatan? Kesepakatan yang hanya memberiku kekuatan. Maukah kau mengisi anganku tanpa menjadi sosok yang semu di nyataku?




Kau menemani diri yang tengah rapuh. Seorang insan yang berharap sayap malaikat melingkupinya. Candu sosokmu tak terelak lagi. Hatiku kosong dan kau hadir tuk memberi arti. Namun kau hanyalah bayang semu, begitu pula laku dan lengkung bibirmu. Perhatian semu pun tak luput tampak darimu. Apa tujuanmu? Apakah membiarkan diri lara termasuk dalam skala prioritasmu? Jangan menyeretku lebih dalam lagi. Karena kau masih semu, sekalipun untuk insan rapuh sepertiku.