“Universitas X”
Tak
pernah terlintas difikiranku bahwa Bapak akan mengucapkan kata itu. Aku marah.
Sangat marah. Tapi Bapak seolah tak mengerti apa yang kurasakan.
Satu
kata itu seolah menusuk ulu hatiku dan menghempaskanku dari langit ketujuh. Aku
selalu mengikuti apa yang Bapak kehendaki, tetapi …… ah, aku tak suka
mengungkit masalah ini.
“Di
kantor Bapak, ada anak-anak baru. Kebanyakan lulusan Jurusan Informatika. Ambil
jurusan itu saja,” ucap Bapak mantap. Jarum jam berhenti berdetak, aku hanya
terdiam, tertegun. Allah cobaan apa ini?
Bapak
mengucapkan itu dengan wajah berseri-seri. Seperti seorang Ayah yang melihat
anaknya sukses dengan menempuh petunjuknya. Bagaimana bisa seorang anak yang
merepotkan sepertiku menghancurkan angan itu hingga berkeping-keping? Maaf
saja, aku tak sejahat itu.
“Kamu
kenapa Na?” ucap Ida terkejut. Aku juga terkejut saat sebuah liquid bening
menempel di layar telefon genggamku. Oh ayolah, ini bukan saat yang tepat.
“Tak
apa, hanya mengantuk saja. Sekarang jam kosong ya?” ucapku sambil tersenyum.
Tetapi ia kelihatan masih ragu.
“Mungkin
iya.” Dia menjawab dengan raut wajah aneh. Sepertinya aku bukan aktris yang
ulung.
“Hei!
Ada guru!” teriak salah satu temanku. Sepertinya masa berduka harus ditunda
dulu. Aku menghela nafas berat saat kulepaskan genggaman pada telefon
genggamku. Di layarnya tertera jelas lambang itu dan kemudian perlahan menghitam
dan padam.
Aku
benci melihat diriku sendiri menangis hingga mataku membengkak. Semua orang
akan tahu kalau aku sehabis menangis. Apa yang harus kulakukan? Aku tak mau
begini hingga akhir nanti. Aku harus mengakhiri ini meski aku tak berniat
secuil pun untuk melukai perasaan Bapak.
Kutersenyum lebar melihat spanduk didepanku. Aku, si
anak merepotkan ini sudah menjadi seorang mahasiswi baru. Kulangkahkan kakiku
dengan penuh percaya diri dan tatapan yakin bahwa memang disinilah seharusnya aku
berada. Tak bisa kulupakan raut wajah kecewa Bapak, tapi akan kubuktikan aku
bisa menjadi seseorang yang sesungguhnya dengan caraku.
“Halo
Na, kita ketemu lagi disini,” ujar seseorang mengagetkanku.
Aku
memutar kepalaku dan tersenyum lebar kemudian. Ah, ternyata dia. Teman
sekelasku dari rok biru hingga abu-abu, Kepet. Tunggu dulu itu bukan nama
pemberian orang tuanya, tetapi itu pemberian kami, teman-temannya dimasa putih
biru.
“Aku
bilang juga apa, kita nanti bakalan satu jurusan!” ucapku pura-pura ketus
sambil melipat kedua tanganku didepan dada.
Ia
hanya tersenyum tipis, “Selamat ya kamu dapat jalur undangan”.
Aku
hanya menatapnya bosan. Ternyata merendah memang ada dalam kamus hidupnya. “Tak
usah seperti itu, justru nilaimu lebih tinggi dariku dan kau masih ingatkan
kalau kau juga dapat jalur undangan sepertiku. Jangan mengejekku!” ucapku meski
aku tahu tak pernah ada niatan jelek itu dalam hatinya. Si Kepet ini hanya
tersenyum lagi seolah dia tahu aku hanya bercanda.
Tak
ada yang aneh saat aku selalu melangkah sendiri. Dulu aku sudah merasakan yang
lebih dari ini hingga kini aku tak gusar lagi. Tapi teman-temanku seperti berkata
lain. Ada yang salah dengan tindakanku. Tatapan aneh mereka saat melihatku. Aku
masih peka tentang hal ini. Tetapi sepertinya mereka benar, aku aneh. Mungkin
karena aku lebih memeilih tersesat di Universitas yang sangat besar ini
daripada harus bertanya pada orang lain. Tak wajar kan?
Aku tak percaya sifat pendiam bahkan anti sosialku ini
malah membuatku memiliki banyak teman. Mereka bilang mereka penasaran saat
melihatku yang begitu misterius. Sering aku tiba-tiba tertawa saat mengingat
ini. Hingga kemudian aku dihadiahi tatapan penuh tanya orang-orang sekitar
tentang kewarasanku.
Jasmine,
salah satu orang yang penasaran denganku dan sering mengumpat dalam hati saat
melihat diriku yang sebenarnya. Hahaha, aku benar-benar misterius kan? Wajah
cantiknya tak terhalang meski ia memakai jilbab yang terkadang ia pakai dengan
asal-asalan. Sifat ramah dan supelnya mampu menyihir semua orang mendekatinya
dan menaruh harapan untuk mengisi hari-harinya. Kau ini popular tau!
“Kau
mau pulang?” ucapnya setelah kami melakukan tes dadakan.
“Tentu.
Aku capek. Aku mau menikmati masakan ibuku tercinta,” jawabku sambil tersenyum
lebar.
Sorot
mata iri menghiasi mata indahnya, “Ah, enak sekalinya. Sedangkan ibu kosku
hanya memasak untuk sarapan, sisanya aku beli sendiri di warung sekitar.”
Muncul
rasa iba dalam diriku. Kelihatannya jauh dari rumah itu susah ya. Sebuah ide
cemerlang mengisi otak kecilku, “Kau mau pulang bersamaku? Kebetulan aku bawa
sepeda hari ini.”
“Bolehkah?”
aku melihat matanya berbinar-binar.
“Tentu,
kenapa tidak? Akan kukenalkan kau kepada pahlawan-pahlawanku.” Kemudian hal itu
seolah menjadi kebiasaannya.
Di
perjalanan, ia tiba-tiba mendengus kasar, “Kau ini benar-benar penipu. Kau tak
seperti dugaanku. Malahan sifat cerewetmu ini membuatku kewalahan. Tuhan,
bagaimana hambamu ini bisa bersahabat dengan penipu ulung seperti dia? Apa
salah dan dosa hamba Tuhan?”
“Hei,
aku bukan penipu!” protesku.
“Tuhan…..”
dan ia mulai meracau lagi.
Kehidupan
seorang mahasiswi sudah mulai kujajaki. Ternyata cukup berat juga ya. Tapi aku
menempelkan memo di hati dan ingatanku bahwa pilihanku ini tak akan salah.
Menjadi seorang guru matematika bukan hal yang buruk kan?
Semester demi semester tak terasa sudah berlalu.
Sidang skripsi yang menghantui akhir-akhir ini sudah kulalui tanpa ada masalah
yang berarti. Sidang berlangsung lancar seperti perkiraanku dan aku diwisuda
beberapa bulan kemudian. Aku seorang sarjana sekarang.
Aku
masih tak percaya dengan apa yang ada dihadapanku. Anak-anak berbagai umur
berpakaian putih merah yang menutupi tubuh mungil mereka. Tangan mungil itu bergerak
perlahan sebagai kipas sederhana untuk mengurangi suhu tubuh mereka. Sepertinya
aku harus cepat. Meski aku sering terbata-bata saat melantunkan kata demi kata
yang sudah kupersiapkan. Kulihat teman-temanku hanya tersenyum geli dengan
tatapan mengejek. Dan pastinya Jasmine adalah salah satu tersangkanya. Kalian akan
mendapatkan ganjaran. Kalian telah membuatku berdiri disini dan kalian
menyebalkan!
Disinilah
kami, di sebuah sekolah dasar sederhana yang nantinya akan menjadi tempat
latihan mengajar kami. Sebuah sekolah dasar yang sangat berbeda saat terakhir
kali aku melihatnya. Ruang perpustakaan yang lebih besar, kursi panjang telah
hilang dan warna cat yang berganti biru tenang. Tentu saja aku mengetahui
hingga sedetail itu, karena aku pernah menghabiskan masa kecilku selama enam
tahun disini. Aku kembali sebagai seorang pengajar. Sebuah kenyataan kecil yang
membuat bibirku terus tersungging.
“Ibu,
kenapa ini susah sekali? Kalau pakai kalkulator kan enak lebih mudah dan cepat.”
“Aku menyerah! Ini sangat sulit. Kenapa harus ada
pelajaran ini sih?”
“Ibu! Kenapa ada angka lima disitu? Padahal kan dua
dikali dua itu empat?”
Aku
tersenyum melihat respon beragam dari mereka. Matematika seolah masih menjadi
momok bagi anak-anak lucu ini. Kehadiranku disini akan mengubah pandangan
mereka tentang pelajaran favoritku ini. Aku yakin itu!
Masa
depan masih membentang luas dihadapanku. Terkadang aku teringat saat aku
membuat air mata Bapak mengalir. Tapi aku rasa aku sudah sedikit mengobati luka
hati itu. Aku mengajar di salah satu lembaga bimbingan belajar dekat rumahku.
Upahnya cukuplah untuk kebutuhanku dan biaya sekolah adik-adikku.
Tetapi, sepertinya panggilan jiwaku bukan ditempat
itu. Ingin rasanya kembali saat aku latihan mengajar di sekolah dasar.
Berhadapan dengan anak-anak lucu nan imut dengan tingkah polos dan jujur mereka
mengenai matematika. Ah, rindu rasanya. Tapi saat ini sudah cukup untukku. Yang
terpenting adalah mengubah pandangan Bapak tentang pilihanku.
~~~~~
“Bapak, a-aku ingin berbicara sesuatu,” ucapku
gugup.
Bapak
menutup buku yang sedang dibacanya. Kedua alisnya bertaut merespon ucapanku.
“Ada apa?” tanya beliau heran.
“Soal
permintaan Bapak, maaf aku tak bisa melaksanakannya.” Ujung bajuku terlihat
kusut setelah aku meremasnya.
“Permintaan?
Permintaan apa?”
“Permintaan
bapak yang-yang menyuruhku masuk Universitas X,” jawabku lirih sambil menundukkan
kepalaku dalam-dalam.
“Kenapa?”
ucapan tajam dan tatapannya seolah menghakimiku. Aku mulai ketakutan. Air mata
sudah menggenang dipelupuk mata.
“Aku
ingin menjadi seorang guru. Lagipula teknologi bukan bakatku. Aku nol besar di bidang
itu. Aku tak mau menjadi seseorang yang menyesal nantinya.”
“Gaji
anak-anak baru di kantor Bapak bahkan melebihi Bapak. Bapak ingin kau membantu
perekonomian keluarga ini. Itu tugasmu sebagai anak pertama,” ucap Bapak lirih
namun tajam.
“Kumohon
Pak, biarkan aku menetukan masa depanku. Aku tak mau salah langkah.”
Dan
kemudian Bapak meninggalkanku dengan air mata yang menetes. Untuk pertama
kalinya, aku menolak permintaan Bapak.
TAMAT
