twitter


            “Bunda jahat! Kenapa Bunda tidak bisa mengerti aku? Aku tidak mau!”
            Aku masih ingat betul saat aku mengucapkan kalimat itu ke Bunda. Aku tahu aku kelewatan. Aku tahu aku telah menyakiti hati Bunda. Tapi aku memang tidak bisa melakukan perintah bunda yang satu ini. Aku tidak mau, aku tidak bisa.
             Aku sebenarnya tidak sengaja. Bunda adalah satu-satunya orangtua yang aku punya. Ayah sudah meninggal saat aku masih kecil. Bahkan, saat aku mencoba mengingat-ingat rupa Ayah, hanya wajah Bunda yang terlintas di benakku. Bunda sudah menjadi sosok orangtua yang lengkap untukku. Meski tanpa Ayah.
            Aku bimbang. Disatu sisi, aku ingin membahagiakan Bunda. Tetapi disisi lain, permintaan Bunda yang satu ini terlalu berat untukku. Maaf Bunda, aku tidak sanggup.
Aku mendengar Bunda menangis di kamarnya. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku marah, kecewa, tetapi aku sangat ingin membahagiakan Bunda. Aku menghela nafas berat. Baiklah, akan kulakukan semua untuk Bunda.
           Kriet, pintu terbuka. Bunda menoleh dan terkejut melihatku. Bunda memalingkan wajahnya lalu menghapus liquid bening dari sudut matanya. Tidak ada seorang anakpun yang bisa melihat orangtuanya menangis. Apalagi menangis karena kita, anaknya. Aku marah pada diriku sendiri. Aku melanggar pesan terakhir Ayah. Ayah berpesan tidak pernah membuat Bunda menangis. Aku masih ingat itu dan sekarang aku melanggarnya karena keegoisanku.
          “Bunda, maafkan aku,” aku bersujud dihadapan Bunda. Air mata mengucur deras dari sudut mataku.
          Bunda tampak bingung melihatku. Aku merasakan kasih sayang yang sangat besar saat belaian Bunda berada di puncak kepalaku. Aku terpejam. Aku tidak akan pernah meragukan lagi cinta Bunda untukku.
          “Aku akan melakukan yang Bunda inginkan. Dengan sepenuh hatiku,” dan kulihat Bunda tersenyum kepadaku.
           Sejak saat itu aku membuang jauh-jauh impianku menjadi dokter. Aku tahu ekonomi keluarga kami tidak akan sanggup untuk membiayai kuliahku nanti. Guru, itu yang Bunda inginkan. Meski ada rasa tidak rela, aku yakin Bunda tahu yang terbaik untukku.
          Aku jengkel jika ada anak yang tidak serius menggapai cita-citanya. Apalagi dia berasal dari keluarga yang berkecukupan. Kenapa mereka tidak memaksimalkan apa yang telah mereka miliki? Aku harus membuang impianku menjadi dokter hanya karena biaya.
         Aku mulai lagi. Aku sudah mencoba menanamkan dalam hati bahwa aku sudah menerima keputusanku ini. Tapi masih sulit rasanya.
         Bunda lebih banyak meluangkan waktunya untukku. Tentu saja aku bahagia. Aku rela menukar apapun untuk meluangkan waktu lebih banyak dengan Bunda termasuk cita-citaku. Kuharap aku bisa menjalani ini dengan tulus.
        “Semoga apa yang telah kau korbankan akan mendapat ganti yang lebih.”
        Sayup-sayup kudengar doa Bunda. Doa Bunda untukku. Liquid bening itu jatuh lagi tanpa kusadari. Doa Bunda adalah kekuatanku untuk tetap melangkah. Bunda, aku mencintaimu.
       “Nia, apa cita-citamu?” Bu Rara sudah berada di depanku tanpa kusadari. Aku melamun.
       “Ah, cita-cita saya menjadi dok-, ah maksud saya guru,” aku menelan ludah saat Bu Rara mengerutkan keningnya.
       “Kenapa Nia? Apakah kamu bercita-cita menjadi dokter?” aku terpojok. Terpaksa aku harus bercerita.
       “Awalnya,” kulihat kerutan didahi Bu Rara semakin dalam. Aku menghela nafas, “Bunda tidak mengizinkan. Tak ada biaya untuk kuliah kedokteran nantinya. Lagipula, sesuatu yang tidak mendapat restu orangtua bukankah akan berakhir buruk?”
       Bu Rara tersenyum, “Nia benar. Tapi alangkah lebih baik lagi jika Nia melakukan itu dengan hati yang ikhlas.”
       Aku pun ikut tersenyum, ”Terima kasih Bu.”
       Aku merasakan teman-temanku berbicara buruk tentangku. Miskin. Itu kata-kata yang sering kudengar. Memang, Bunda menyekolahkanku di sekolah mahal. Awalnya aku enggan, tetapi Bunda mengatakan ingin memberikan yang terbaik untukku. Aku bungkam, Bunda pasti berusaha sangat keras untukku. Aku hanya bisa memberikan beasiswa yang aku dapat untuk Bunda. Alhamdulillah, aku bisa sedikit meringankan beban Bunda.
       Aku tak peduli apa yang orang lain bicarakan tentangku. Selama aku masih punya Bunda, aku yakin aku akan tetap berdiri tegak meski angin topan menerjangku. Bunda segalanya untukku.
       Pagi itu aku mendapat berita besar. “Nia, bisa ikut Ibu sebentar?” aku mendongak saat mendengar seseorang berbicara menyebut namaku. Ternyata Bu Rara.
       “Baik Bu,” aku beranjak mengikuti Bu Rara. Ternyata Bu Rara mengajakku ke ruang kepala sekolah. Keringat dingin mulai mengucur dari dahiku. Untuk apa Bu Rara membawaku ke ruang kepala sekolah? Apa beasiswaku akan dicabut? Aku sangat gugup. Apa salahku?
       “Nia,” suara Bu Rara mengagetkanku, “Kepala sekolah ingin bertemu denganmu. Nia duduk disini dulu. Sebentar lagi kepala sekolah akan datang. Bu Rara keluar dulu.”
       Aku hanya bisa mengangguk. Pikiranku kosong. Aku takut. Kudengar  langkah kaki mulai mendekat. Aku menghembuskan nafas untuk mengurangi rasa takutku. Beasiswaku tak akan dicabut. Kata-kata itu kutanamkan dalam otakku.
      “Nia. Saya punya sesuatu untukmu,” kulihat Pak Agus, kepala sekolahku menyerahkan sebuah amplop kepadaku, “Sekarang kau boleh pulang. Serahkan amplop itu ke bundamu.”
      “Terima kasih Pak. Saya mohon undur diri,” Pak Agus hanya mengangguk.
      Perjalanan pulang terasa sangat lama. Padahal sekolah hanya beberapa ratus meter dari rumah. Kuharap bukan berita buruk. Kuharap, kuharap,kuharap. Saat ini aku hanya bisa berharap.
      Tanganku gemetar saat aku menyerahkan amplop itu ke Bunda. “Apa ini?” kening Bunda berkerut. Aku hanya bisa mengangkat pundak. Aku memang tak tahu isi amplop itu. Kudengar suara kertas disobek. Aku memejamkan mataku. Tak berani membuka mataku barang satu inci pun. Doa senantiasa kupanjatkan saat kudengar Bunda mulai menangis.
      Aku membuat Bunda menangis lagi. Aku mengecewakan Bunda. Kalimat itu mulai memenuhi memori otakku. Aku gagal. Aku gagal.
      Kurasakan ada sesuatu yang menabrakku. Aku membuka mataku perlahan. Ternyata Bunda.               “Kamu membuat Bunda bangga,” isak tangis terdengar jelas disela-sela gumaman Bunda.
      “Bangga? Aku membuat Bunda kecewa!” aku tak bisa mengontrol suaraku. Aku membentak Bunda!
       “Ma-maaf. Aku tidak bermaksud membentak Bunda,” dan isak tangisku mulai terdengar.
       Bunda tersenyum, “Kamu membuat Bunda bangga, Nia. Baca ini,” Bunda menyerahkan secarik kertas kepadaku.
Tertanda dibawah ini :
Nama              :Nia Annisa
Sekolah            : SMA Pancasila
Mendapat beasiswa penuh di Universitas Garuda Fakultas Kedokteran hingga S1
        Aku tak percaya dengan penglihatanku sendiri. Derai air mata semakin deras mengalir saat aku bersujud mengucap syukur. Bunda memelukku sangat erat. Allah memberi kenikmatan yang tak terkira untukku. Allah telah memberikan yang terbaik untukku. Terima kasih Allah. Terima kasih Bunda.
     “Allah sudah memberikan nikmat untukmu. Jangan sia-siakan kesempatan yang telah Allah berikan kepadamu. Bunda sangat bangga padamu,” kata Bunda.
     “Nia akan berusaha melakukan yang terbaik. Terima kasih atas doa Bunda selama ini,” aku mencium tangan Bunda. Tangan seorang wanita paling hebat di dunia. Seseorang yang membuatku tetap berdiri meski halangan terbesar menghadangku. Terima kasih banyak Bunda. Engkau segalanya untukku.
       Sekarang, aku berdiri dihadapan banyak orang. Menceritakan tentang hidupku, “Bagi saya, Bunda adalah segalanya. Selalu menuruti permintaannya meski itu berat untuk kita.. Meski kita terpaksa membuang impian terbesar kita. Cita-cita kita. Karena Allah akan menunjukkan jalan yang benar saat kita telah salah melangkah.”
        Kulihat semua orang berdiri sambil bertepuk tangan. Aku telah menjadi seorang dokter yang sukses. Dapat menginspirasi orang lain adalah impianku dan itu semua berkat Bunda.
        Bunda telah berada di surga. Menjaga dan mengawasiku dari atas sana. Aku tak akan pernah lupa kepadamu Bunda. Engkau telah membuatku menjadi seseorang yang berguna. Engkau menginspirasiku. Sekali lagi, terima kasih Bunda.

TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar