Buai mimpi masih disisi. Meski mentari sudah disinggasana tertinggi. Tak ada salahnya membiarkan ini terus terjadi. Terus menutup mata akan semua hal yang nyata. Meski kau nyata, aku akan setia tuk menutup netra. Nyatamu membawa duka dan luka. Nyatamu hanya memberi sebuah harapan tanpa perwujudan. Jadi, bagaimana jika kita membuat sebuah kesepakatan? Kesepakatan yang hanya memberiku kekuatan. Maukah kau mengisi anganku tanpa menjadi sosok yang semu di nyataku?
0
komentar
Posted in
Kau menemani diri yang tengah rapuh. Seorang insan yang berharap sayap malaikat melingkupinya. Candu sosokmu tak terelak lagi. Hatiku kosong dan kau hadir tuk memberi arti. Namun kau hanyalah bayang semu, begitu pula laku dan lengkung bibirmu. Perhatian semu pun tak luput tampak darimu. Apa tujuanmu? Apakah membiarkan diri lara termasuk dalam skala prioritasmu? Jangan menyeretku lebih dalam lagi. Karena kau masih semu, sekalipun untuk insan rapuh sepertiku.
0
komentar
Posted in
“Bunda jahat! Kenapa Bunda tidak bisa
mengerti aku? Aku tidak mau!”
Aku
masih ingat betul saat aku mengucapkan kalimat itu ke Bunda. Aku tahu aku
kelewatan. Aku tahu aku telah menyakiti hati Bunda. Tapi aku memang tidak bisa
melakukan perintah bunda yang satu ini. Aku tidak mau, aku tidak bisa.
Aku sebenarnya tidak sengaja. Bunda adalah
satu-satunya orangtua yang aku punya. Ayah sudah meninggal saat aku masih
kecil. Bahkan, saat aku mencoba mengingat-ingat rupa Ayah, hanya wajah Bunda
yang terlintas di benakku. Bunda sudah menjadi sosok orangtua yang lengkap
untukku. Meski tanpa Ayah.
Aku bimbang. Disatu sisi, aku ingin
membahagiakan Bunda. Tetapi disisi lain, permintaan Bunda yang satu ini terlalu
berat untukku. Maaf Bunda, aku tidak sanggup.
Aku mendengar Bunda menangis di kamarnya. Aku
tak tahu harus berbuat apa. Aku marah, kecewa, tetapi aku sangat ingin
membahagiakan Bunda. Aku menghela nafas berat. Baiklah, akan kulakukan semua
untuk Bunda.
Kriet, pintu terbuka. Bunda menoleh dan terkejut
melihatku. Bunda memalingkan wajahnya lalu menghapus liquid bening dari sudut
matanya. Tidak ada seorang anakpun yang bisa melihat orangtuanya menangis.
Apalagi menangis karena kita, anaknya. Aku marah pada diriku sendiri. Aku
melanggar pesan terakhir Ayah. Ayah berpesan tidak pernah membuat Bunda
menangis. Aku masih ingat itu dan sekarang aku melanggarnya karena keegoisanku.
“Bunda, maafkan aku,” aku bersujud dihadapan
Bunda. Air mata mengucur deras dari sudut mataku.
Bunda tampak bingung melihatku. Aku merasakan
kasih sayang yang sangat besar saat belaian Bunda berada di puncak kepalaku.
Aku terpejam. Aku tidak akan pernah meragukan lagi cinta Bunda untukku.
“Aku akan melakukan yang Bunda inginkan.
Dengan sepenuh hatiku,” dan kulihat Bunda tersenyum kepadaku.
Sejak saat itu aku membuang jauh-jauh
impianku menjadi dokter. Aku tahu ekonomi keluarga kami tidak akan sanggup
untuk membiayai kuliahku nanti. Guru, itu yang Bunda inginkan. Meski ada rasa
tidak rela, aku yakin Bunda tahu yang terbaik untukku.
Aku jengkel jika ada anak yang tidak serius
menggapai cita-citanya. Apalagi dia berasal dari keluarga yang berkecukupan.
Kenapa mereka tidak memaksimalkan apa yang telah mereka miliki? Aku harus
membuang impianku menjadi dokter hanya karena biaya.
Aku mulai lagi. Aku sudah mencoba menanamkan
dalam hati bahwa aku sudah menerima keputusanku ini. Tapi masih sulit rasanya.
Bunda lebih banyak meluangkan waktunya
untukku. Tentu saja aku bahagia. Aku rela menukar apapun untuk meluangkan waktu
lebih banyak dengan Bunda termasuk cita-citaku. Kuharap aku bisa menjalani ini
dengan tulus.
“Semoga apa yang telah kau korbankan akan
mendapat ganti yang lebih.”
Sayup-sayup kudengar doa Bunda. Doa Bunda
untukku. Liquid bening itu jatuh lagi tanpa kusadari. Doa Bunda adalah kekuatanku
untuk tetap melangkah. Bunda, aku mencintaimu.
“Nia, apa cita-citamu?” Bu Rara sudah berada
di depanku tanpa kusadari. Aku melamun.
“Ah, cita-cita saya menjadi dok-, ah maksud
saya guru,” aku menelan ludah saat Bu Rara mengerutkan keningnya.
“Kenapa Nia? Apakah kamu bercita-cita menjadi
dokter?” aku terpojok. Terpaksa aku harus bercerita.
“Awalnya,” kulihat kerutan didahi Bu Rara
semakin dalam. Aku menghela nafas, “Bunda tidak mengizinkan. Tak ada biaya
untuk kuliah kedokteran nantinya. Lagipula, sesuatu yang tidak mendapat restu
orangtua bukankah akan berakhir buruk?”
Bu Rara tersenyum, “Nia benar. Tapi alangkah
lebih baik lagi jika Nia melakukan itu dengan hati yang ikhlas.”
Aku pun ikut tersenyum, ”Terima kasih Bu.”
Aku merasakan teman-temanku berbicara buruk
tentangku. Miskin. Itu kata-kata yang sering kudengar. Memang, Bunda
menyekolahkanku di sekolah mahal. Awalnya aku enggan, tetapi Bunda mengatakan
ingin memberikan yang terbaik untukku. Aku bungkam, Bunda pasti berusaha sangat
keras untukku. Aku hanya bisa memberikan beasiswa yang aku dapat untuk Bunda.
Alhamdulillah, aku bisa sedikit meringankan beban Bunda.
Aku tak peduli apa yang orang lain bicarakan
tentangku. Selama aku masih punya Bunda, aku yakin aku akan tetap berdiri tegak
meski angin topan menerjangku. Bunda segalanya untukku.
Pagi itu aku mendapat berita besar. “Nia,
bisa ikut Ibu sebentar?” aku mendongak saat mendengar seseorang berbicara
menyebut namaku. Ternyata Bu Rara.
“Baik Bu,” aku beranjak mengikuti Bu Rara.
Ternyata Bu Rara mengajakku ke ruang kepala sekolah. Keringat dingin mulai
mengucur dari dahiku. Untuk apa Bu Rara membawaku ke ruang kepala sekolah? Apa
beasiswaku akan dicabut? Aku sangat gugup. Apa salahku?
“Nia,” suara Bu Rara mengagetkanku, “Kepala sekolah
ingin bertemu denganmu. Nia duduk disini dulu. Sebentar lagi kepala sekolah
akan datang. Bu Rara keluar dulu.”
Aku hanya bisa mengangguk. Pikiranku kosong.
Aku takut. Kudengar langkah kaki mulai
mendekat. Aku menghembuskan nafas untuk mengurangi rasa takutku. Beasiswaku tak
akan dicabut. Kata-kata itu kutanamkan dalam otakku.
“Nia. Saya punya sesuatu untukmu,” kulihat
Pak Agus, kepala sekolahku menyerahkan sebuah amplop kepadaku, “Sekarang kau
boleh pulang. Serahkan amplop itu ke bundamu.”
“Terima kasih Pak. Saya mohon undur diri,”
Pak Agus hanya mengangguk.
Perjalanan pulang terasa sangat lama. Padahal
sekolah hanya beberapa ratus meter dari rumah. Kuharap bukan berita buruk.
Kuharap, kuharap,kuharap. Saat ini aku hanya bisa berharap.
Tanganku gemetar saat aku menyerahkan amplop
itu ke Bunda. “Apa ini?” kening Bunda berkerut. Aku hanya bisa mengangkat
pundak. Aku memang tak tahu isi amplop itu. Kudengar suara kertas disobek. Aku
memejamkan mataku. Tak berani membuka mataku barang satu inci pun. Doa senantiasa
kupanjatkan saat kudengar Bunda mulai menangis.
Aku membuat Bunda menangis lagi. Aku
mengecewakan Bunda. Kalimat itu mulai memenuhi memori otakku. Aku gagal. Aku
gagal.
Kurasakan ada sesuatu yang menabrakku. Aku
membuka mataku perlahan. Ternyata Bunda. “Kamu membuat Bunda bangga,” isak
tangis terdengar jelas disela-sela gumaman Bunda.
“Bangga? Aku membuat Bunda kecewa!” aku tak
bisa mengontrol suaraku. Aku membentak Bunda!
“Ma-maaf. Aku tidak bermaksud membentak Bunda,”
dan isak tangisku mulai terdengar.
Bunda tersenyum, “Kamu membuat Bunda bangga,
Nia. Baca ini,” Bunda menyerahkan secarik kertas kepadaku.
Tertanda
dibawah ini :
Nama :Nia Annisa
Sekolah : SMA Pancasila
Mendapat
beasiswa penuh di Universitas Garuda Fakultas Kedokteran hingga S1
Aku
tak percaya dengan penglihatanku sendiri. Derai air mata semakin deras mengalir
saat aku bersujud mengucap syukur. Bunda memelukku sangat erat. Allah memberi
kenikmatan yang tak terkira untukku. Allah telah memberikan yang terbaik
untukku. Terima kasih Allah. Terima kasih Bunda.
“Allah
sudah memberikan nikmat untukmu. Jangan sia-siakan kesempatan yang telah Allah
berikan kepadamu. Bunda sangat bangga padamu,” kata Bunda.
“Nia
akan berusaha melakukan yang terbaik. Terima kasih atas doa Bunda selama ini,”
aku mencium tangan Bunda. Tangan seorang wanita paling hebat di dunia.
Seseorang yang membuatku tetap berdiri meski halangan terbesar menghadangku.
Terima kasih banyak Bunda. Engkau segalanya untukku.
Sekarang,
aku berdiri dihadapan banyak orang. Menceritakan tentang hidupku, “Bagi saya,
Bunda adalah segalanya. Selalu menuruti permintaannya meski itu berat untuk
kita.. Meski kita terpaksa membuang impian terbesar kita. Cita-cita kita.
Karena Allah akan menunjukkan jalan yang benar saat kita telah salah melangkah.”
Kulihat
semua orang berdiri sambil bertepuk tangan. Aku telah menjadi seorang dokter
yang sukses. Dapat menginspirasi orang lain adalah impianku dan itu semua
berkat Bunda.
Bunda
telah berada di surga. Menjaga dan mengawasiku dari atas sana. Aku tak akan
pernah lupa kepadamu Bunda. Engkau telah membuatku menjadi seseorang yang
berguna. Engkau menginspirasiku. Sekali lagi, terima kasih Bunda.
TAMAT
0
komentar
Posted in
“Universitas X”
Tak
pernah terlintas difikiranku bahwa Bapak akan mengucapkan kata itu. Aku marah.
Sangat marah. Tapi Bapak seolah tak mengerti apa yang kurasakan.
Satu
kata itu seolah menusuk ulu hatiku dan menghempaskanku dari langit ketujuh. Aku
selalu mengikuti apa yang Bapak kehendaki, tetapi …… ah, aku tak suka
mengungkit masalah ini.
“Di
kantor Bapak, ada anak-anak baru. Kebanyakan lulusan Jurusan Informatika. Ambil
jurusan itu saja,” ucap Bapak mantap. Jarum jam berhenti berdetak, aku hanya
terdiam, tertegun. Allah cobaan apa ini?
Bapak
mengucapkan itu dengan wajah berseri-seri. Seperti seorang Ayah yang melihat
anaknya sukses dengan menempuh petunjuknya. Bagaimana bisa seorang anak yang
merepotkan sepertiku menghancurkan angan itu hingga berkeping-keping? Maaf
saja, aku tak sejahat itu.
“Kamu
kenapa Na?” ucap Ida terkejut. Aku juga terkejut saat sebuah liquid bening
menempel di layar telefon genggamku. Oh ayolah, ini bukan saat yang tepat.
“Tak
apa, hanya mengantuk saja. Sekarang jam kosong ya?” ucapku sambil tersenyum.
Tetapi ia kelihatan masih ragu.
“Mungkin
iya.” Dia menjawab dengan raut wajah aneh. Sepertinya aku bukan aktris yang
ulung.
“Hei!
Ada guru!” teriak salah satu temanku. Sepertinya masa berduka harus ditunda
dulu. Aku menghela nafas berat saat kulepaskan genggaman pada telefon
genggamku. Di layarnya tertera jelas lambang itu dan kemudian perlahan menghitam
dan padam.
Aku
benci melihat diriku sendiri menangis hingga mataku membengkak. Semua orang
akan tahu kalau aku sehabis menangis. Apa yang harus kulakukan? Aku tak mau
begini hingga akhir nanti. Aku harus mengakhiri ini meski aku tak berniat
secuil pun untuk melukai perasaan Bapak.
Kutersenyum lebar melihat spanduk didepanku. Aku, si
anak merepotkan ini sudah menjadi seorang mahasiswi baru. Kulangkahkan kakiku
dengan penuh percaya diri dan tatapan yakin bahwa memang disinilah seharusnya aku
berada. Tak bisa kulupakan raut wajah kecewa Bapak, tapi akan kubuktikan aku
bisa menjadi seseorang yang sesungguhnya dengan caraku.
“Halo
Na, kita ketemu lagi disini,” ujar seseorang mengagetkanku.
Aku
memutar kepalaku dan tersenyum lebar kemudian. Ah, ternyata dia. Teman
sekelasku dari rok biru hingga abu-abu, Kepet. Tunggu dulu itu bukan nama
pemberian orang tuanya, tetapi itu pemberian kami, teman-temannya dimasa putih
biru.
“Aku
bilang juga apa, kita nanti bakalan satu jurusan!” ucapku pura-pura ketus
sambil melipat kedua tanganku didepan dada.
Ia
hanya tersenyum tipis, “Selamat ya kamu dapat jalur undangan”.
Aku
hanya menatapnya bosan. Ternyata merendah memang ada dalam kamus hidupnya. “Tak
usah seperti itu, justru nilaimu lebih tinggi dariku dan kau masih ingatkan
kalau kau juga dapat jalur undangan sepertiku. Jangan mengejekku!” ucapku meski
aku tahu tak pernah ada niatan jelek itu dalam hatinya. Si Kepet ini hanya
tersenyum lagi seolah dia tahu aku hanya bercanda.
Tak
ada yang aneh saat aku selalu melangkah sendiri. Dulu aku sudah merasakan yang
lebih dari ini hingga kini aku tak gusar lagi. Tapi teman-temanku seperti berkata
lain. Ada yang salah dengan tindakanku. Tatapan aneh mereka saat melihatku. Aku
masih peka tentang hal ini. Tetapi sepertinya mereka benar, aku aneh. Mungkin
karena aku lebih memeilih tersesat di Universitas yang sangat besar ini
daripada harus bertanya pada orang lain. Tak wajar kan?
Aku tak percaya sifat pendiam bahkan anti sosialku ini
malah membuatku memiliki banyak teman. Mereka bilang mereka penasaran saat
melihatku yang begitu misterius. Sering aku tiba-tiba tertawa saat mengingat
ini. Hingga kemudian aku dihadiahi tatapan penuh tanya orang-orang sekitar
tentang kewarasanku.
Jasmine,
salah satu orang yang penasaran denganku dan sering mengumpat dalam hati saat
melihat diriku yang sebenarnya. Hahaha, aku benar-benar misterius kan? Wajah
cantiknya tak terhalang meski ia memakai jilbab yang terkadang ia pakai dengan
asal-asalan. Sifat ramah dan supelnya mampu menyihir semua orang mendekatinya
dan menaruh harapan untuk mengisi hari-harinya. Kau ini popular tau!
“Kau
mau pulang?” ucapnya setelah kami melakukan tes dadakan.
“Tentu.
Aku capek. Aku mau menikmati masakan ibuku tercinta,” jawabku sambil tersenyum
lebar.
Sorot
mata iri menghiasi mata indahnya, “Ah, enak sekalinya. Sedangkan ibu kosku
hanya memasak untuk sarapan, sisanya aku beli sendiri di warung sekitar.”
Muncul
rasa iba dalam diriku. Kelihatannya jauh dari rumah itu susah ya. Sebuah ide
cemerlang mengisi otak kecilku, “Kau mau pulang bersamaku? Kebetulan aku bawa
sepeda hari ini.”
“Bolehkah?”
aku melihat matanya berbinar-binar.
“Tentu,
kenapa tidak? Akan kukenalkan kau kepada pahlawan-pahlawanku.” Kemudian hal itu
seolah menjadi kebiasaannya.
Di
perjalanan, ia tiba-tiba mendengus kasar, “Kau ini benar-benar penipu. Kau tak
seperti dugaanku. Malahan sifat cerewetmu ini membuatku kewalahan. Tuhan,
bagaimana hambamu ini bisa bersahabat dengan penipu ulung seperti dia? Apa
salah dan dosa hamba Tuhan?”
“Hei,
aku bukan penipu!” protesku.
“Tuhan…..”
dan ia mulai meracau lagi.
Kehidupan
seorang mahasiswi sudah mulai kujajaki. Ternyata cukup berat juga ya. Tapi aku
menempelkan memo di hati dan ingatanku bahwa pilihanku ini tak akan salah.
Menjadi seorang guru matematika bukan hal yang buruk kan?
Semester demi semester tak terasa sudah berlalu.
Sidang skripsi yang menghantui akhir-akhir ini sudah kulalui tanpa ada masalah
yang berarti. Sidang berlangsung lancar seperti perkiraanku dan aku diwisuda
beberapa bulan kemudian. Aku seorang sarjana sekarang.
Aku
masih tak percaya dengan apa yang ada dihadapanku. Anak-anak berbagai umur
berpakaian putih merah yang menutupi tubuh mungil mereka. Tangan mungil itu bergerak
perlahan sebagai kipas sederhana untuk mengurangi suhu tubuh mereka. Sepertinya
aku harus cepat. Meski aku sering terbata-bata saat melantunkan kata demi kata
yang sudah kupersiapkan. Kulihat teman-temanku hanya tersenyum geli dengan
tatapan mengejek. Dan pastinya Jasmine adalah salah satu tersangkanya. Kalian akan
mendapatkan ganjaran. Kalian telah membuatku berdiri disini dan kalian
menyebalkan!
Disinilah
kami, di sebuah sekolah dasar sederhana yang nantinya akan menjadi tempat
latihan mengajar kami. Sebuah sekolah dasar yang sangat berbeda saat terakhir
kali aku melihatnya. Ruang perpustakaan yang lebih besar, kursi panjang telah
hilang dan warna cat yang berganti biru tenang. Tentu saja aku mengetahui
hingga sedetail itu, karena aku pernah menghabiskan masa kecilku selama enam
tahun disini. Aku kembali sebagai seorang pengajar. Sebuah kenyataan kecil yang
membuat bibirku terus tersungging.
“Ibu,
kenapa ini susah sekali? Kalau pakai kalkulator kan enak lebih mudah dan cepat.”
“Aku menyerah! Ini sangat sulit. Kenapa harus ada
pelajaran ini sih?”
“Ibu! Kenapa ada angka lima disitu? Padahal kan dua
dikali dua itu empat?”
Aku
tersenyum melihat respon beragam dari mereka. Matematika seolah masih menjadi
momok bagi anak-anak lucu ini. Kehadiranku disini akan mengubah pandangan
mereka tentang pelajaran favoritku ini. Aku yakin itu!
Masa
depan masih membentang luas dihadapanku. Terkadang aku teringat saat aku
membuat air mata Bapak mengalir. Tapi aku rasa aku sudah sedikit mengobati luka
hati itu. Aku mengajar di salah satu lembaga bimbingan belajar dekat rumahku.
Upahnya cukuplah untuk kebutuhanku dan biaya sekolah adik-adikku.
Tetapi, sepertinya panggilan jiwaku bukan ditempat
itu. Ingin rasanya kembali saat aku latihan mengajar di sekolah dasar.
Berhadapan dengan anak-anak lucu nan imut dengan tingkah polos dan jujur mereka
mengenai matematika. Ah, rindu rasanya. Tapi saat ini sudah cukup untukku. Yang
terpenting adalah mengubah pandangan Bapak tentang pilihanku.
~~~~~
“Bapak, a-aku ingin berbicara sesuatu,” ucapku
gugup.
Bapak
menutup buku yang sedang dibacanya. Kedua alisnya bertaut merespon ucapanku.
“Ada apa?” tanya beliau heran.
“Soal
permintaan Bapak, maaf aku tak bisa melaksanakannya.” Ujung bajuku terlihat
kusut setelah aku meremasnya.
“Permintaan?
Permintaan apa?”
“Permintaan
bapak yang-yang menyuruhku masuk Universitas X,” jawabku lirih sambil menundukkan
kepalaku dalam-dalam.
“Kenapa?”
ucapan tajam dan tatapannya seolah menghakimiku. Aku mulai ketakutan. Air mata
sudah menggenang dipelupuk mata.
“Aku
ingin menjadi seorang guru. Lagipula teknologi bukan bakatku. Aku nol besar di bidang
itu. Aku tak mau menjadi seseorang yang menyesal nantinya.”
“Gaji
anak-anak baru di kantor Bapak bahkan melebihi Bapak. Bapak ingin kau membantu
perekonomian keluarga ini. Itu tugasmu sebagai anak pertama,” ucap Bapak lirih
namun tajam.
“Kumohon
Pak, biarkan aku menetukan masa depanku. Aku tak mau salah langkah.”
Dan
kemudian Bapak meninggalkanku dengan air mata yang menetes. Untuk pertama
kalinya, aku menolak permintaan Bapak.
TAMAT
0
komentar
Posted in
Pranggggg….
Kenapa
ini menimpa keluargaku? Apa salah keluargaku? Apa salahku? Saat orang tua
pulang, mungkin semua anak akan senang. Tapi tidak buatku. Mereka akan
melakukan hal yang selalu mereka lakukan saat mereka bertemu. Bertengkar,
bertengkar dan terus bertengkar.
Tidakkah
mereka memikirkan perasaanku? Bagaimana perasaan seorang anak yang selalu
melihat orang tuanya bertengkar dengan mengorbankan sesuatu yang ada disekitar
mereka? Tidakkah mereka mengerti?
Mereka
selalu bilang bahwa mereka tetap bersatu meski jurang pemisah memisahkan mereka
karena aku. Aku, anak mereka satu-satunya. Tapi kenapa mereka tidak bisa
berhenti untuk sehari saja? Kumohon, berhentilah!
Kumendengar
mereka berdua berteriak mempertahankan apa yang menurut mereka benar. Tidak ada
yang mau mengalah. Mereka hanya akan berhenti saat aku keluar kamar. Mereka akan
menghampiriku, memelukku, mencium puncak kepalaku dan mengucapkan selamat
malam. Bersikap seolah tak ada apapun yang terjadi. Aku senang jika mereka menunjukan
kasih sayang mereka itu tanpa ada sorot mata dan wajah penuh kebohongan. Lebih
baik aku pergi saja dari sini, aku yakin mereka tidak akan menyadari karena
mereka lebih sibuk dengan rutinitas yang menurutku menyebalkan itu. Aku pergi!
“Aku
sudah bosan dan capek dengan semua ocehan kalian!” untuk kesekian kalinya air
mata kembali menetes. “Selamat tinggal ayah dan bunda. Kalian tidak akan pernah
melihatku kembali,” ucapku lirih.
Aku
bersyukur kamarku ada dilantai bawah sehingga aku tak perlu memikirkan banyak
cara untuk kabur lewat jendela. Hanya tinggal membuka jendela dan pergi. Itu
saja. Baru kusadari bahwa kabur dari rumah bukanlah hal yang harus membuatku
memeras otak.
Aku
merogoh saku celanaku mencari benda itu. Ah, ketemu. Saat ini handphone adalah
benda yang paling berguna, “Sekarang kemana ya?” kupukulkan handphone itu pelan
di daguku. Aku tersenyum, “Mungkin Ratu bisa membantuku.”
Tak
kusangka dia akan menerimaku dengan mudah dirumahnya. Tanpa mengatakan satu pertanyaanpun.
Dia membuka pintu, menyuruhku masuk dan mengantarku ke kamar tamu. Semua ia
lakukan tanpa ada sepatah katapun keluar dari bibir merah alaminya. “Kau aneh.
Tidak biasanya kau diam seperti ini,” ucapku spontan. Hanya dengungan yang
kudengar sebagai jawabannya.
“Ratu?”
aku bertanya sekali lagi.
Dia
menghela nafas dan mulai membuka mulutnya untuk berbicara, “Vira, meskipun kau
saudara sepupuku, bukan berarti kau bisa menelfonku tengah malam dan berharap
aku menyambutmu dengan senyum lebar! Ini tengah malam Vira!”
“Maaf
kakak sepupuku yang baik dan cerewet,” dia melotot saat aku mengucapkan itu.
“Aku bosan dirumah,” aku menekankan kata bosan saat aku mengucapkannya. Dia
pasti mengerti, dia tidak sebodoh itu.
“Terserah.
Sekarang aku mau tidur. Besok ada kuliah pagi. Menyebalkan,” dia menutup pintu
dan kudengar langkah kakinya menjauh.
Aku
membanting tubuhku diatas tempat tidur. Memosisikan tubuhku dengan nyaman dan
bersiap untuk tidur. “Mereka tidak akan mencariku,” dan akupun terlelap.
Sebuah
suara yang memekakan telinga membuatku terjatuh dari tempat tidur. Aku mengelus
pantatku yang malang. “Vira!” suara itu terdengar lagi.
Aku
bangkit, “Apa?” Suaraku tak kalah kerasnya.
“Makanan
ada diatas meja! Aku mau berangkat! Kunci pintunya!” teriaknya.
“Ratu,
bisakah kau tidak berteriak? Ini masih jam enam pagi!” lama-lama orang ini
menyebalkan juga.
“Jangan
pernah mengatakan aku menyebalkan!” aku tertegun. Bagaimana dia bisa tahu? “Dan
sekarang kau pasti bingung darimana aku tahu!”
Aku
kaget, dia bisa menebaknya. “Apakah kau sedang mempelajari ilmu membaca
fikiran?” tanyaku sambil masih berteriak.
“Jangan
konyol! Sekarang bisakah kau turun dan menghentikan acara berteriak pagi-pagi
ini?” Aku sebal, “Bukankah kau yang memulai?”
“Cepat
turun!” teriaknya lagi.
“Sekarang
berangkatlah, aku sudah turun. Terima kasih makanannya,” ucapku dengan senyum
lebar.
“Aku
tidak percaya aku diusir dari rumahku sendiri,” ucapnya sambil berpura-pura
mengusap air mata. Beginilah jika ia sedang ‘kumat’.
Aku
mendorongnya keluar, “Semoga harimu menyenangkan!”
Ratu
adalah sepupuku. Kau tahu itu. Ia juga anak tunggal, sama sepertiku. Papanya
adalah seorang pengusaha tekstil sukses dan Mamanya adalah pemilik butik
terkenal. Rumah yang sekarang aku pijaki adalah rumah mereka dulu. Tidak
terlalu besar dan sederhana. Mereka pindah ke rumah yang lebih besar. Tapi Ratu
tidak mau ikut. Ia lebih nyaman disini. Biasanya, setiap akhir pekan orang
tuanya datang kemari dan menginap.
“Terakhir
aku kesini, rumah ini sangat rapi. Tidak seperti sekarang,” aku termenung.
”Mungkin rumah ini butuh sedikit sentuhan.”
“Selesai.
Jauh lebih baik,” aku tersenyum puas. “Waktunya makan!”
Saat
aku beranjak ke dapur, aku melewati ruang tengah. Ada sebuah foto yang
menggangguku. Foto Ratu dan orang tuanya. Mereka terlihat bahagia. Sangat
bahagia. Tidak seperti keluargaku.
“Ah,
sial!” kuusap air mata yang mengalir tiba-tiba. “Kapan keluargaku bisa seperti
keluargamu?”
Kruyuk…
kruyuk… kruyuk
Ah,
benar! Makan. Kutengok jam dinding, “Jam dua belas? Pantas perutku berbunyi
minta diisi. "Perutku yang malang,” ucapku sambil mengelus perut.
Setelah
mandi sore, aku tertarik untuk membaca majalah yang ada diruang tamu. Majalah
fashion! Favoritku! Tapi gaduh-gaduh diluar menggangguku. “Mungkin Ratu,”
pikirku.“Masuk aja, gak dikunci!”
“Ayo
masuk Git,” sepertinya Ratu tidak sendiri. Aku bereskan majalah yang berserakan
karena ulahku. Bagaimanapun aku tamu disini. Ratu membawa teman perempuan yang
menurutku sangat cantik. Surai hitam panjangnya, mata coklatnya dan kulit
putihnya. Dia cantik sekali!
“Vira,
kenalin ini temanku, Gita. Gita, ini sepupuku, Vira,” ucap Ratu memperkenalkan.
“Senang
berkenalan denganmu,” ujar Gita lembut.
Aku
tersenyum, “Aku juga.”
Ratu
menepuk pundakku dan Gita, “Aku mau buat minum dulu. Kalian ngobrol dulu ya.
Bentar kok, gak lama.” Aku menggeleng, “Biar aku aja. Kamu kan capek baru pulang.”
“Kamu
kan tamu disini. Gak enak dong kalau kamu yang buat minum. Udah tunggu disini,”
Ratu menekan kedua pundakku hingga aku terduduk.
“Aku
semalam kesini. Kok kamu gak ada? Baru datang tadi pagi ya?” tanya Gita membuka
percakapan.
“Enggak.
Aku datang tengah malam. Hehehe,” ujarku sambil menggaruk kepalaku yang tidak
gatal.
Gita
kaget, “Tengah malam? Kok bisa?”
“Kabur
dari rumah,” ucapku pendek. Kulihat Gita lebih kaget lagi. Sikap lemah lembut
dan tenang yang ia tunjukkan tadi hilang seketika. Aku tertawa dalam hati.
“Kenapa?”
suaranya meninggi. Sadetik kemudia ia sadar, “Maaf. Kau mau menceritakannya?”
Cukup
lama aku terdiam sambil berfikir. Bagaimanapun juga dia orang asing. Tak ada
satupun orang yang menceritakan aibnya kepada orang yang tidak dikenal. Tapi
aku butuh solusi. Mungkin saja yang kulakukan ini salah. Kabur, maksudku.
“Uhm,
gimana harus memulainya ya? Aku bingung. Intinya mereka selalu bertengkar saat
mereka bertemu, mengorbankan benda-benda dirumah untuk mendukung kegiatan mereka
itu,” aku berhenti untuk menarik nafas. “Bersikap tak ada apapun yang terjadi
saat mereka melihatku. Mereka menyebalkan,” jelasku sambil mengerucutkan bibir
dan melipat kedua tanganku didada.
Kulihat
Gita hanya tersenyum lembut sambil mengunyah kue kering dimulutnya. Anak ini
menyebalkan juga. Yang menyuruhku cerita
tadi siapa?
“Ah,
maaf. Bukan maksudku membuatmu kesal,” ucap Gita saat melihat wajah kesalku.
“Kalau mereka bertengkar, kenapa mereka tetap bersatu? Bercerai maksudku.”
“Aku
pernah mendengar salah satu dari mereka mengatakan itu karena mereka sayang
kepadaku. Mereka bohong!”
“Maaf
sebelumnya, bagaimana jika orang tuamu bercerai?” tanyanya.
“Lebih
baik begitu daripada mereka terus bertengkar,” ucapku sarkastik.
“Itu
pilihanmu. Pikirkan lagi, orang tuamu sayang kepadamu,” ucapnya sambil
tersenyum simpul.
“Tapi
mereka-”
“Minuman
datang! Maaf menunggu lama!” ucap Ratu tiba-tiba. Padahal seharusnya kami tahu
saat Ratu datang. Mungkin kita terlalu serius. Ratu menyebalkan. Aku belum
selesai bicara tadi.
“Terima
kasih Ratu aku boleh main kesini. Aku pulang dulu ya!” ujar Gita setelah
menghabiskan minuman digelasnya.
“Ah,
tak perlu sungkan. Terima kasih Gita,” ucap Ratu sambil mengedipkan sebelah
matanya. Ada yang aneh disini.
“Sama-sama.”
Gita pulang dengan mobil merah yang terparkir di depan rumah.
“Kamu
sengaja ya bawa temanmu itu kesini?” ucapku penuh selidik.
“Enggak
kok. Kebetulan tadi hujan di kampus, ku nebeng dia.”
Aku
berdiri dari sofa, “Gak usah bohong dia tadi bilang kalau dia main.” Aku
langsung pergi ke kamar tamu. Tapi saat melewati ruang tengah, aku melihat foto
itu lagi. Tanpa sadar aku menghampirinya dan air mataku mengalir lagi.
Aku
terkejut saat seseorang menyentuh pundakku, “Aku tahu yang kamu rasakan. Kamu
harus kuat ya.” Ternyata Ratu. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa marah. Aku
menepis tangannya dipundakku, “Kamu gak pernah ngerasain jadi aku. Gak usah sok
tahu!”
Dia
tersenyum tapi air mata mengalir dari kedua sudut matanya, “Sebenarnya orang
tuaku sudah bercerai. Tak lama setelah mereka pindah dari sini.”
Aku
tertegun, itu gak mungkin. Keluarga Ratu adalah salah satu keluarga paling
bahagia yang pernah aku tahu. Tak mungkin momok itu mengganggu keluarganya.
Aku tak percaya. “Ratu, kamu tak perlu berbohong supaya bisa menasehatiku,”
ucapku ragu.
“Kamu
bilang aku bohong?!” suara Ratu meninggi. “Kamu kira aku mau orang tuaku
bercerai? Aku tetap berusaha kuat didepan mereka. Tapi aku juga seorang anak biasa.
Aku tidak bisa terus berpura-pura biasa saja. Broken home Vira, broken home!”
“Tolong
aku. Ajari aku supaya bisa kuat kayak kamu,” ucapku frustasi.
Dia
mengelus puncak kepalaku dan dia tersenyum saat aku menepisnya. Dia seharusnya
tahu aku paling benci hal itu. Hanya orang tuaku yang boleh melakukannya!
“Gampang,
cukup kamu mengerti mereka. Kamu akan kuat dengan sendirinya”
“Baiklah,
aku akan mencobanya. Besok aku akan pulang,” ucapku sambil menunduk.
Dia
mengangkat kepalaku, “Tak perlu.” Dia tersenyum misterius lalu dia bergeser
satu langkah ke kanan.
Aku
melihat orang tuaku! Mereka disana! Di depan pintu! Aku berlari kearah mereka
sambil membuka tanganku lebar-lebar. Aku rindu mereka.
“Maafin
Vira. Vira nakal!” air mataku mengalir deras.
Sekarang
kehidupan seorang Vira tidak sama lagi. Aku memutuskan tinggal bersama Ratu.
Aku senang saat orang tua kami datang mengunjungi kami dan menginap. Seperti
menjadi keluarga yang utuh. Meskipun mereka sudah bercerai, aku tak menyesal
keputusan mereka. Aku bahagia, mereka bahagia.
TAMAT
0
komentar
Posted in
Apa Ini ?
Sebuah rasa asing mulai menjalar hati. Mencari celah diantara banyaknya pelipur diri. Entah apa yang ia cari, sebuah puncak tertinggi atau ruang kosong tak berpenghuni. Kenapa sulur itu mulai mendominasi? Menutup pori-pori kecil dan perlahan meracuni. Menekan perlahan dan berubah total saat ia datang. Apa ini? Pergi! Aku tak mau terkontaminasi. Namun, rambatanmu hanya gerakan lemah tak berarti. Karena kau memilih mengisi bukan mengungguli.
8
komentar
Posted in
“ POLISI
TAMAN ”
Disuatu
sore, ada dua anak sekolah yang berjalan-jalan di taman untuk melepas lelah.
C : “Kamu nimum apa sih? Bagi-bagi
dong!” (mengambil minuman B)
B : “Gak usah maksa gitu. Ini, aku
kasih.”
C : “Hehehe, aku habisin ya?” (tersenyum
lebar)
B : “Terserah.” (pasrah)
Minuman B
telah habis. Dengan cueknya C membuang kaleng miuman itu dan jatuh tepat di
samping kakinya tetapi B tidak mengetahuinya.
B : “Eh, aku punya pisang. Kamu mau?”
(memberikan sebuah pisang)
C : “Boleh. Kebetulan aku lapar.”
(mengelus perut)
Mereka
kembali melanjutkan jalan-jalan mereka. Disudut taman ada seorang tuna netra
bernama A yang berjalan-jalan menggunakan tongkat. Tiba-tiba…
A : “Astagfirullah, apa ini?” (mengambil
benda yang membuatnya terjatuh)
A : “Ternyata kaleng. Siapa yang tega
membuang sampah disini. Bukannya banyak tempat sampah di tempat ini?” (berjalan
kearah tempat sampah)
Dari
jauh ada B sedang memperhatikan A.
B : “Lihat orang itu, dia buta tetapi
dia peduli.”
C : “Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”
( terlihat bingung )
B : “Kau ini bagaimana sih? ( terlihat
kesal ) Orang buta itu saja mau peduli dengan lingkungan, kamu mau kalah sama
dia?”
C : “Ya enggak lah. Secara aku lebih
sempurna dari dia. Masa aku kalah sama orang buta seperti dia?” ( berbicara sombong
)
B : “Jangan sombong begitu. Bukannya
kamu yang membuang kaleng ditempat itu?” ( sambil menunjuk tempat A )
C : ( terlihat gelisah ) “E-e-eng-enggak
kok. Jangan asal nuduh dong!” ( terlihat marah )
B : “Gak usah bohong. Aku lihat sendiri
kok. Cepat minta maaf.”
C : “Ogah. Cuma buang kaleng satu aja
kamu udah berisik. Gak usah sok deh.”
B : (menggelengkan kepala) “Kamu itu,
sudah salah tidak mau minta maaf. Bagaimana kalau orang buta tadi terluka?”
C : “Gak usah berlebihan.”
Tanpa mereka berdua sadari, A
mulai mendekati mereka.
B : “Kam……”
A : “Halo, aku dengar daritadi kalian
seperti membicarakan aku yang buta. Ada apa ya?”
B : “Maafkan kami. Bukan maksud kami
membicarakanmu. Aku hanya menasehati temanku ini.” ( sambil menyenggol bahu C )
A : “Memangnya temanmu itu kenapa?” (
terlihat bingung )
C : “Aku gak….”
B : ( memotong ucapan C ) “Dia buang
sampah sembarangan.”
A : “Itu tidak baik.”
C : “Cerewet. Memang kamu siapa?
Polisi?”
A : “Ya, aku polisi.”
A
bertingkah seperti seorang polisi. Dia berjalan memutari C, seolah-olah C
adalah seorang penjahat.
A : “Kamu melakukan kejahatan yang besar
Nak.” ( bersuara laki-laki )
B : “Kejahatan besar apa yang teman
hamba lakukan Pak Polisi?”
A : “Temanmu membuang sampah sembarangan
yang menyebabkan sesorang tuna netra terjatuh.”
C : “Hei, buta! Darimana kamu tau aku
yang membuangnya? Jangan menuduhku!” (terlihat marah)
A : “Si buta itu memberitahuku. Dia
mendengar perbicaraan kalian berdua. Sebaiknya kau mengaku anak muda atau
hukumanmu akan semakin berat.”
B : “Memangnya Tuan akan memberi teman
hamba hukuman apa?”
A : “Temanmu ini harus memastikan taman
ini bersih tanpa sampah hingga taman ini tutup, jika saat aku memeriksa masih
ada sampah dia harus melakukannya lagi sampai seminggu.” ( bernada
menakut-nakuti )
C : “Kau ini buta! Sadari itu!”
A : “Enak saja, aku tidak buta. Yang
buta itu yang melapor kepadaku tadi. Ini tangan yang menyebabkan orang lain
terluka.” ( memegang tangan C )
B : “Sudahlah kawanku yang baik, lakukan
hukumanmu. Jangan membantah.”
C : “Aku muak dengan kalian!”
C
berjalan menjauh. Tanpa dia sadari ada kulit pisang didepannya. Dia pun
terpeleset.
C : “Siapa yang membuang kulit pisang
disini?” ( terlihat sangat marah )
B : “Bukannya itu kulit pisang yang kau
buang tadi?” ( berteriak dari jauh, C tertunduk malu )
C : ( ekspresi kesal ) Baiklah Pak
Polisi, hamba menerima hukuman hamba.”
A
dan B : “Bagus anak muda. Hahahaha…” (
tertawa terbahak-bahak )
Cuap-Cuap
:
Teks
Drama ini untuk 4 orang. Yang satu jadi narrator, yang 3 main. Tokohnya diisi
sendiri ya! Semoga bermanfaat! Jangan lupa meninggalkan jejak! :)
